Tradisi Lepat Gayo


chicio.blogspot.com

Tradisi masyarakat Gayo begitu banyak. Unik dan menarik. Jikalau ingin menlihat sebuah kehidupan budaya di Aceh, gayo menjadi salahs atu referensi utama.

Dataran tinggi Gayo, memiliki iklim yang dingin, terletak di ketinggian 1200 meter diatas permukaan laut. Kehidupan masyarakat disana tentu begitu menarik untuk di telisik. Walaupun, sebagian tradisi itu sudah mulai punah. Namun tetap masih ada, dan tidak sulit untuk menemui berbagai tradisi di Gayo.

Salah satunya adalah tradisi lepat gayo.

Lepat gayo adalah sebuah makanan khas di Gayo. Lepat tersebut biasanya dibuat saat menyambut hari-hari besar Islam. Seperti menjelang Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.

Lepat Gayo kini tidaklah seperti dulu. Dahulu, lepat gayo sering dijadikan bahan makanan tambahan, sehingga setiap rumah masyarakat akan selalu ada lepat gayo, walau lebaran telah berlalu hingga empat bulan.

Lepat gayo di gantung diatas perapian atau para-para dapur. Lepat gayo itu tidak membusuk, dan tetap terbungkus rapi oleh daun pisang. Perubahan utama hanya pada warna daun dan lepat yang sudah mengeras.

Baca lebih lanjut

Kopi Gayo


Takengon terhampar diantara lekuk bukit dan gunung-gunung

Sapuan awan tipis menutupi kumpulan atap rumah putih memantulkan cahaya pagi
Hutan hijau lapis berlapis beitu angun
(Adalah kutipan sajak yang dilantunkan Fikar W. Eda, mengambarkan geografis dataran tinggi Gayo.)

Sinar mentari belum terasa menghangatkan badan saat jam masih menunjukan pukul 06.00 WIB, hawa sejuk masih mengintari di sepanjang tubuh, awan putih yang baru saja menyelimuti pegunungan kini mulai beranjak pergi seiring datangnya mentari, itulah pagi-pagi di dataran tinggi Gayo.

“Tos kope kupi Nia (Tolong buatkan kopi Nia),” unjar Aman Sulas, seorang laki-laki yang berprofesi sebagai petani kopi. Rambutnya mulai memutih, kain sarung berwarna gelap tak pernah lekang dari pinggangnya, kulitnya mulai mengkerut di sepanjang wajahNya. Baca lebih lanjut